Selasa, 22 Mei 2012

HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM



HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Pendahuluan
Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan gambaran yang membicarakan Tentang manusia dan makna filosofis dari penciptaannya. Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baik penciptaan dan dibekali akal dan pikiran, sehingga dibutuhkannya pendidikan agar akal dan pikiran mereka dapat digunakan pada hal yang baik, khususnya pendidikan islam.
Akal dan fikiran menjadi bekal seseorang untuk berfilsafat, manusia didunia ini sebagai objek maupun juga dapat sebagai subjek dalam segala hal yang berkaitan dengan manusia itu.  Diciptakannya manusia didunia ini pasti ada maksud dan sesuatu yang perlu diketahui agar kehisupan dapat berjalan sesuai dengan kebaikan atau  mengikuti aturan-aturan yang ada. Pemikiran tentang hakikat manusia telah dimulai sejak zaman  dahulu dan terus berlangsung sampai saat ini. Pemikiran tentang  hakikat manusia belum berakhir dan tidak akan pernah berakhir. Ternyata orang menyelidiki manusia dalam alam semesta merupakan  bagian yang amat penting karena dengan uraian ini dapat diketahui  dengan  jelas tentang potensi yang dimiliki manusia serta peranan  yang harus dilakukan dalam alam semesta. Dalam Islam, hakekat manusia adalah perpaduan antara badan  dan ruh. Keduanya masing-masing merupakan substansi yang berdiri sendiri dan tidak saling bergantung satu sama lain. Islam secara tegas  mengatakan bahwa kedua substansi tersebut adalah substansi alam, sedangkan alam adalah makhluk, maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.  Manusia memiliki banyak kesamaan dengan makhluk hidup  lainnya, namun manusia berbeda sekali dengan mereka. Manusia  adalah makhluk material maupun spiritual. Hal-hal yang benar-benar  membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah  kemampuan untuk membentuk dimensi-dimesni baru dalam diri  manusia. Secara etimologi Fitrah berarti suci, bersih, murni. Tuhan  menciptakan manusia dalam kondisi fitrah, artinya dalam kondisi  yang suci, bersih, dan murni. Seperti yang dikemukakan oleh banyak  ahli yang dapat dipercaya. Maknanya ialah bahwa sesungguhnya manusia dilahirkan dengan membawa watak dan karakter yang siap  menerima agama. Sekiranya dia dibiarkan berada dalam wataknya itu, niscaya dia akan sampai pada apa yang semestinya terjadi pada  dirinya (menerima agama), kecuali jika terdapat faktor-faktor luar  yang berpengaruh terhadap dirinya dan menyimpangkannya dari  jalannya yang alami dan fitri.


Rumusan masalah
Dalam makalah ini akan membahas tentang beberapa hal mengenai hakikat manusia dalam pandangan filsafat pendidikan islam antara lain :

1.    Bagaimana manusia dan hakikat kejadiannya        ?       
2.    Apa tugas dan kewajiban manusia            ?
3.    Bagaimana konsep manusia dalam pendidikan islam    ?

Pembahasan
4.    Manusia dan hakikat kejadian manusia
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan dengan akal fikiran. Ibn ‘Arabi melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa , “tak ada makhluk allah yang lebih bagus dari manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berfikir, dan memutuskan.
Islam berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Badan dan ruh merupakan substansi yang berdiri sendiri, yang tidak tergantung adanya oleh yang lain. Islam secara tegas mengatakan bahwa kedua substansi dua-duanya adalah substansi alam. Sedangkan alam adalah makhluk. Maka keduanya adalah makhluk ciptaan Allah swt. Dalam sebuah ayat al-quran allah berfirman yang artinya :
Dan sesungguhnya kami ciptakan manuisa dari sari tanah. Kemudian kami jadikan sari tanah itu air mani (terletak) dalam tempat simpanan yang teguh (rahim). Kemudian dari air mani itu kami ciptakan segumpal daging dan dari daging yang segumpal itu kami ciptakan tulang belulang. Kemudian tulang belulang itu kami jadikan dia makhluk yang baru yaitu manusia yang sempurna. Maka maha berkat (suci allah) pencipta yang paling baik. (Q.S : Al-mukminun: 12-14).
Seorang pemikir abad modern  Dr. Alexis Carrel;  seorang peletak dasar-dasar humoniora di Barat, berpendapat  bahwa manusia adalah makhluk yang misterius, karena derajat  keterpisahan manusia dari dirinya berbadning terbalik dengan  perhatiannya yang demikian tinggi terhadap dunia yang ada di  luar dirinya.  Pendapat ini menunjukan betapa sulitnya memahami manusia secara tuntas dan menyeluruh. Sehingga  setiap kali seseorang selesai memahami dari satu aspek tentang manusia maka akan muncul aspek yang lainnya yang belum ia bahas.

Hakikat kejadian manusia. Memikirkan dan membicarakan mengenai hakikat manusia inilah yang menyebabkan orang tidak henti-hentinya mencari jawaban yan memuaskan tentang pertanyaan yang mendasar tentang manusia yaitu “apa,dai mana, dan kemana manusia itu”?
Ada empat aliran berbicara tentang manusia itu, yaitu aliran serba zat,aliran  serba ruh, aliran dualism (gabungan kedua aliran yaitu aliran pertama dan aliran yang ke dua) dan aliran eksistensialisme.
Aliran serba zat. Aliran serba zat/materi itulah hakikat dari sesuatu. Alam ini adalah zat/materi, dan manusia adalah unsur dari alam. Maka hakikat manusia adalah zat/materi. Karena manusia makhluk materi, maka pertumbuhannya berproses dari materi juga. Sebagai makhluk materi kita tentu membutuhkan makanan, dan sejauh itu kita tidak mungkin bebas untuk tidak makan,begitu juga sebagai manusia kita dipaksa untuk berfikir. Jadi  segala keperluan manusia juga bersifat materi, membutuhkan kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya dari materi itu.
 Aliran serba ruh. Segala sesuatu yang ada di dunia ini ialah ruh. Hakikat manusia juga ruh, ruh tidak menempati ruang, sehingga tidak dapati disentuh dan dilihat oleh panca indra. Seorang filsuf, Fichte berpendapat bahwa “segala sesuatu yang lain (selain ruh) yang rupanya ada, hidup hanyalah suatu jenis, perumpamaan, perubahan atau penjelasan dari pada ruh.
Aliran dualisme, Aliran dualisme mecoba menggabungkan menggabungkan antara aliran materi dan zat. Aliran ini menganggap manusia ini terdiri dari da substansi yaitu jasmani dan rohani. Kedua substansi ini tidak tergantung satu sama lainya. (badan tidak berasal dari ruh dan sebaliknya). Dalam perwujudannya manusia itu tampil dua yaitu jasad dan ruh, saling berintegrasi yang akhirnya disebut manusia. Antara jasad dan ruh saling mempengaruhi.
 Orang belum merasa puas dengan pandangan-pandangan di atas, baik dari segi zat, ruh, dan aliran dualisme. Ahli-ahli filsafat modern terus memikirkan lebih lanjut tentang hakikat, manusia mana yang merupakan eksistensi manusia atau wujud manusia itu sesungguhnya, disebut kaum eksistensialis dan aliran eksistensialisme. Mereka mencari inti hakekat manusia yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh, aliran ini memandang dari segi eksistensi manusia itu sendiri, yaitu cara beradanya manusia itu sendiri di dunia ini. Aliran ini mengeluarkan 4 macam pandangan, yaitu:
Pandangan idealistis tentang badan manusia.
Pandangan materialistis tentang manusia mengatakan bahwa yang ada itu hanyalah badan, manusia itu bersifat materi
Badan merupakan musuhdari roh antara badan dan roh saling bertentangan
Dan manusia sebagai jasmani yang di”rohani”kan atau rohani yang di “jasmani”kan dalam pandangan ini antara badan dan roh menyatu dalam pribadi manusia.
Didalam Al-Qur’an, digunakan kata al-insan, juga untuk menjelaskan sifat umum, serta sisi-sisi kelebihan dan kelemahan manusia antara lain :
Tidak semua yang diinginkan manusia berhasil dengan usahanya, bila Allah tidak menginginkannya.
Gembira bila mendapat nikmat dan susah bila mendapat cobaan.
Manusia sering bertindak bodoh dan zalim.
Manusia sering kali ragu.
Manusia bila mendapatkan kenikmatan sering kali lupa diri dan kikir.
Manusia adalah makhluk yang lemah.
Kewajiban manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya.
Peringatan Allah agar manusia waspada terhadap bujukan orang munafik.

Fitrah dari Segi Bahasa

Secara etimologi Fitrah berarti suci, bersih, murni. Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi fitrah, artinya dalam kondisi yang suci, bersih, dan murni.Allah SWT berfirman yang artinya : “Tetaplah atas Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Q.S. ar-Ruum: 30)“Ibrahim berkata, Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya.” (Q.S. al-Anbiya: 56) “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.” (Q.S. al-An’am: 79) “Apabila langit terbelah.” (Q.S. al- Infithar:1) “ Langit (pun) menjadi pecah-belah pada hari itu karena Allah. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.”  (Q.S. al-Muzzammil: 18) Lafad Fithrah, dengan berbagai derivatnya, banyak disebutkan dalam Al-Qur’an, misalnya dalam ayat-ayat di atas, yang dalam konteks ini berarati al-khalq dan al-ibda’. Al-khalq itu sendiri identik dengan  Al-ibda (yang memiliki arti menciptakannya sesuatu tanpa contoh). Hanya saja, yang menyebutkannya dalam bentuk ini  (fithrah), yakni yang mengikuti pola fi’lah, hanya satu ayat ini, yang artinya :   “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menjadikan manusia menurut fitrah itu.” (Q.S.  ar-Rum: 30) Dalam bahasa Arab, bentuk fi’lah menunjuk pada masdar yang menunjukkan arti “keadaan atau jenis perbuatan”. Jika kita mengucapkan kata  jalsah, maka lafal ini menunjuk pada arti “duduk satu kali”. Tetapi jika kita katakan jalsah, maka artinya adalah keadaan duduk. Karena itu, ucapan kita yang berbunyi, “Jalastu jilsata Zaidin, “berarti, “Aku duduk seperti duduknya Zaid.” Yakni, duduk seperti keadaan duduk yang dilakukan Zaid.  Berdasarkan itu, maka lafal fithrah yang berkaitan dengan keadaan manusia dan hubungan keadaan tersebut dengan agama, yakni yang disebutkan dalam ayat, yang artinya : “Fitrah Allah yang menciptakan manusia  itu,  (Q.S. ar-Rum: 30) mengandung arti keadaan yang dengan itu manusia diciptakan. Artinya, Allah telah menciptakan manusia dengan keadaan tertentu, yang didalamnya terdapat kekhususan- kekhususan yang ditempatkan Allah dalam dirinya saat dia diciptakan, dan keadaan itulah yang menjadi fitrahnya.  Al-fahtr berarti menciptakan dan menjadikan (al-ibtiada’wa al-ikhtira’), dan fithrah merupakan keadaan yang dihasilkan dari penciptaan itu. Yakni menciptakan sesuatu dalam wujud yang baru sama sekali, yang merupakan kebalikan dari “membuat sesuatu dengan mengikuti contoh sebelumnya” Allah adalah al-fathir. Dia adalah al-Mukhtari’ (yang menciptakan tanpa contoh), sedangkan manusia adalah  at-taqlidi (membuat sesuatu dengan mengikuti contoh), manusia hanyalah mengikuti, bahkan di saat dia membuat sesuatu yang baru sekalipun. Sebab, hasil dari kreasinya pasti mengandung unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya.. Manusia mengambil contoh dari alam dan merancang sesuai dengan pola-pola yang ada di alam semesta, lalu dia membuat sesuatu seperti yang ada pada contoh itu. Manusia kadang-kadang dapat membuat sesuatu yang baru, sebab dia memang memiliki kemampuan untuk itu. Sekalipun begitu,tidak bisa tidak, dia pasti bersandar pada alam dan benda-benda yang ada di dalamnya, dan membuat sesuatu dengan cara menirunya.  Dalam kitab-kitab lain disebutkan secara tegas bahwa Allah SWT tidak pernah mencontoh dalam menciptakan yang dilakukan-Nya. Semua ciptaan-Nya tidak didahului oleh contoh sebelumnya. Karena itu Fitrah yang dengan itu Allah menciptakan manusia merupakan suatu karya yang tidak memiliki contoh dan tidak meniru karya yang ada sebelumnya. Ibn al-Atsir mengatakan, “al-Fithrah adalah keadaan yang dihasilkan dari penciptaan itu, seperti halnya al-jalsah dan ar-rikbah,” yang berarti keadaan duduk dan keadaan mengendarai binatang tunggangan dengan keadaan tertentu. Maksud dari penjelasan tersebut, agar dalam menafsirkan ayat-ayat di atas disandarkan pada pengertian-pengertian kosakata yang benar. Seperti yang dikemukakan oleh banyak ahli yang dapat dipercaya. Maknanya ialah bahwa sesungguhnya manusia dilahirkan dengan membawa watak dan karakter yang siap menerima agama. Sekiranya dia dibiarkan berada dalam wataknya itu, niscaya dia akan sampaipada apa yang semestinya terjadi pada dirinya (menerima agama), kecuali jika terdapat faktor-faktor luar yang berpengaruh terhadap dirinya dan menyimpangkannya dari jalannya yang alami dan fitri. Selanjutnya Ibn al-Atsir mengatakan bahwa lafal fithrah banyak dikemukakan dalam hadits-hadits Nabi, misalnya sebuah hadits yang dalam kitab tersebut tidak diriwayatkan redaksinya tapi dikemukakan maknanya, yang berbunyi,“Barangsiapa melakukan dosa tertentu dan mati tidak dalam fithrah, Muhammad.........” Di sini Ibn al-Atsir menggunakan lafal  fithrah yang berarti agama, sehingga hadits tersebut harus diartikan “dan dia mati tidak dalam agama Muhammad.” Ibn al-Atsir juga mengutip ucapan Imam ‘Ali as, “Dan Allah menciptakan kalbu-kalbu sesuai dengan fitrah-Nya.”  Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa Allah SWT menciptakan banyak fitrah dalam diri manusia, dan tidak hanya satu.

2.     Tugas dan tujuan hidup manusia
            Dalam Al Quran dinyatakan bahawa Allah SWT menciptakan manusia bukan secara main-main (Q.S, Al mu’minuun/23:115), melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi. Secara global tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklarifikasikan duayaitu :
1.         Khalifah
          Al Quran mengatakan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat (Q.S, Ar ruum/3372).diantara amanat itu adalah memakmurkan kehidupan di bumi (Q.S, Huud/11:16). Manusia diberi kedudukan sebagai khalifah di muka bumi (Q.S, Al Baqarah/2:30). Menurut Ahmad Musthafa Al maraghi, kata khalifah dalam suart Al baqarah ini memiliki dua makna, pertama, pengganti, yaitu pengganti Allah SWT untuk melaksanakan titah-Nya di muka bumi. Kedua, pemimpin yang memimpin diri sendiri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentinag manusia secara keseluruhan.
2.      ‘Abd (Pengabdi Allah)
Konsep ‘abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah. Tugas ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian kepada Allah SWT (Q.S, Adz Dzaariyaat/5111/56) dengan penuh keikhlasan. Secara luas, konsep ‘abd sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas seorang hamba selama ia hidup di alam semesta dinilai sebagai ibadah jika aktvitas itu ditujukan semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Bekerja, belajar jika ditujukan hanya untuk mencari ridha allah itu akan menjadi ibadah. Jadi semua aktivitas seorang hamba dalam seluruh dimensi kehidupan adalah ibadah jika dilakukan hanya untuk mencari ridha Allah semata.

3. Bagaimana konsep manusia dalam pendidikan islam

    Para ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan praktek kependidikan islam harus didasarkanpada konsepsi dasar tentang manusia. Pembicaraan seputar  persoalan ini adalah merupakan sesuatu yang sangat vital dalam pendidikan. Tanpa kejelasan tentang konsep ini, pendidikan akan meraba-raba. Bahkan menurut ahli Ali Ashraf, pendidikan islam tidak akan dapat difahami secara jelas tanpa terlebih dahulu memahami penafsiran islam tentang pengembangan individu seutuhnya.
    Pada uraian terdahulu telah dikemukakan tentang filsafat penciptaan manusia dan fungsi penciptaannyadalam alam semesta. Ada 2 hal yang terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan islam, yaitu:
Karena manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immaterial). Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan islam harus dibangun di atas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan Qalbiyah dan Aqliyah sehingga mampu mnghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Jika kedua komponen itu terpisah dalam proses kependidikan,maka manusia akan kehilangan keseimbangaannya dan tidak akan pernah menjadi pribadi yang sempurna.
Alquran menjelaskan fungsi penciptaan manusia dialam ini adalah sebagai Kholifah dan  ‘Abd untuk melaksanakan tugas ini Allah SWT membekali manusia dengan seperangkat potensi. Maka pendidikan islam harus merupakan upaya yang di tujukan kearah pengembangan potensi yang di miliki manusia yang maksimal sehingga dapat di wujudkan dalam bentuk kongkrit dalam arti kemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri,masyrakat dan lingkungannya sebagai realiosasi fungsi dan tujuan penciptannya baik sebagai Kholifah maupun ‘Abd.
Kedua hal tersebut menjadi acuan dasar dalam menciptakan dan mengembangkan sistem pendidikan islam masa kini dan masa depan. Dalam konteks ini dipahami bahwa posisi manusia sebagai kholifah dan abd menghendaki program pendidikan yang menawarkan sepenuhnya penguasaan ilmu pengetahuan secara totalitas,agar manusia tegar sebagai kholifah dan takwa sebagai subtansi dan aspek ‘Abd. Sementara itu, keberadaan manusia sebagai resultan dari kedua komponen (materi dan immaterial) menghendaki pula program pendidikan sepenuhnya mengacu pada konsepequibrium, yaitu integrasi yang utuh antara pendidikan aqliyah dan qalbiyah.
Agar pendidikan umat berhasil dalam prosesnya,maka konsep penciptaan manusia dan fungsi penciptaanya dalam alam manusia haarus sepenuhnya diakomodasikan dalam perumusan teori-teori pendidikan islam melalui pendekkatan kewahyuan,empirik keilmuan dan rasional filosofis.dalam hal ini harus dipahami bahwa pendekatan keilmuan filosofis hanya merupakan media untuk menalar pesan-pesan tuhan yang absolut baik melului ayat-ayatNya yang berfifat tekstual (Qur’aniyah), muapun ayat-ayatNya besifat kontekstual (kauniyah) yang telah di jabarkanNya melalui sunatullah.

Kesimpulan
Manusia diciptakan di dunia ini penuh dengan bekal berupa akal dan pikiran, serta menjadi makhluk yang paling sempurna diantara makhluk yang lain. Dunia ini berisikan banyak cara dan pembelajaran agar manusia dapat mengembangkan potensi dan pendidikannya.
Manusia semestinya adalah makhluk yang lemah, tidak dapat berbuat apa-apa tanpa ada kehendak dari yang maha kuasa, maka dari itu janganlah berfikiran bahwa manusia adalah kuat dan berkuasa.
Manusia itu meskipun demikian diciptakan di dunia ini sebagai khalifah, itupun termasuk sebagai jabatan yang agung di dunia ini, juga sebagai ‘abd.
     
Daftar Pustaka

Muthahhari, Murtadha, Fitrah, Jakarta : Lentera, 1999
Subhani, Ja’far, Urusan Tuhan, Jakarta : Al-Huda, 2006
Muthahhari, Murtadha,  Manusia dan Alam Semesta, Jakarta : Lentera, 2002
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1995
Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997
Arifin, H.M., Prof.,  Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1996
Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta : UI, 1975
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002
http://ade-budayaminang.blogspot.com/2011/11/hakikat-manusia-dalam-perspektif.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar